Aku Ingin Jogja Nyaman

Rabu, Juni 12, 2013

Sudah agak lama tidak menginjakkan kaki di Yogyakarta. Bisa di bilang Jogja adalah propinsi ke dua yang saya tinggali lama. Hampir 6 tahun saya ada di Jogja dengan berbagai pengalaman yang sebagian besar masih teringat di otak. Saya pertama kali tinggal di Jogja sekitar tahun 2000, walau mungkin karena terpaksa harus menjadi mencari ilmu di sana wkwk. Mengalami perjalanan dari desa nan pelosok, berpindah ke kota adalah sesuatu yang luar biasa. Penyesuaian diri dengan lingkungan adalah hal yang paling sulit di lakukan, terutama dari segi makanan.

Pindah dari desa menuju kota semuanya harus di lakukan sendiri. Yang biasanya kalau di rumah kadang cuman main dan tidur saja namun dengan pindahnya ini semua harus di atur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu tujuan utama pindah ke Jogja. Mungkin setiap orang dari luar daerah Jogja juga mengalami hal ini. Penyesuaian dengan lingkungan di Jogja tidak sesulit yang di bayangkan. Rupanya komunikasi dengan warga Jogja asli lebih mudah jika di banding dengan pendatang lain. Hal ini kemungkinan karena budaya masih sama, unggah ungguh masih sama dan segala hal di lingkungan orang asli Jogja tidak ada ubahnya dengan lingkungan saya di Sragen. kenyamanan tinggal di jogja bisa di dapatkan dalam waktu singkat.

Nyaman di Jogja ini bisa saya rasakan, lingkungan yang mendukung adalah salah satu faktor terbesar yang saya rasakan. Bagaimana tidak selama 5 tahun saya di Jogja menempati rumah kos yang sama. Tidak ada konflik apapun dengan pemilik kos maupun keluarga malah malah sudah merasa seperti keluarga sendiri. Klo sakit, mereka berusaha membantu, kalau puasa ada sedikit makanan untuk berbuka, kalau ada makanan dari tetangga yang punya kerja kita kita yang kos di situ juga yang kebagian makanan. Dan yang pasti semakin lama tinggal di kos tersebut, harga sewa juga semakin murah jika di banding yang lain.

Kenyamanan ini pula lah yang kadang membuat saya jarang pulang. Bisa di bayangkan, Jogja Sragen yang hanya di tempuh 3 jam perjalananpun bukan menjadi faktor saya untuk selalu pulang, namun malah membuat saya malas pulang. Kadang cuman pulang pas hari besar agama Islam saja. Yaitu lebaran Idul Fitri dan Idul Adha , ataupun ada kepentingan yang mengharuskan pulang. memang tidak seperti yang lain yang selalu rutin pulang tiap seminggu atau dua minggu.

Jujur saja di waktu dulu, saya lebih suka berjalan kaki daripada motoran untuk pergi ke kampus. Kalau ndak percaya, motor saja 8 bulan belum menginjak KM 500, oli saja baru di ganti sekali di KM 200an. Waktu lebih banyak di habiskan di kampus dan ngenet. Kalaupun keluar juga dengan anak anak asli Jogja yang memang sebagian teman kampus adalah anak asli Jogja semua. Yang luar jogja bisa di hitung :D. Jadi makin nyaman deh dengan kehidupan di Jogja tersebut.

Perbedaan yang mencolok sekarang dengan dulu adalah suasananya. Kalau jalan mungkin tidak ada yang berubah, paling hanya penambahan marka jalan saja. Perbedaan suasana di Jogja dulu sama sekarang yang sangat saya rasakan adalah suasana panas karena polusi. Sepertinya banyak sekali daerah yang dulunya hijau kini berubah menjadi beton. Tidak tahu apakah ini karena tuntutan banyaknya pendatang yang ingin tinggal di Jogja atau yang lain. Di tambah lagi dengan banyaknya kendaraan sekarang yang kelihatan sudah over di tampung oleh jalan. Bayangkan dulu pas masih kuliah dan harus membuat tugas statistik trafik jalan, menghitung motor setelah lampu merah sampai 50-100 motor di perempatan Depok dekat MM UGM. Apalagi untuk sekarang.

Aku Ingin Jogja Berhati Nyaman

Yang aku inginkan di Jogja sekarang adalah kenyamanan seperti dulu, yang enak untuk jalan. Mungkin perlu difikirkan untuk penanaman pohon tahunan yang bisa mengurangi polusi sekaligus enak untuk Instirahat. Memerlukan pohon yang rindang contoh saja beringin. Kelihatannya pohon yang satu ini bisa bertahan puluhan tahun atau malah ratusan tahun. Kalau di beberapa lahan kosong di tanami ini dan ada sumur peresapan saya yakin di Jogja akan kembali adem dan nyaman untuk di tinggali.

Perlu di ingat, Jogja merupakan kota pelajar dan kenyamanan ini mutlak diperlukan. bayangkan saja ketika belajar malah suasana panas. Yang ada malah sibuk kipas kipas dan enjoi malah lupa belajarnya. Dan saya lihat program jam wajib belajar dulu sudah hilang dari Jogja. Tidak tahu kenapa, apa karena sudah teracuni oleh kehidupan pendatang atau memang sudah tidak di butuhkan lagi. Namun seingat saya dan saya sendiri merasakan, dulu nilai anak Jogja dan Magelang sangat menakutkan untuk di lawan dari daerah lain. Tapi kenapa di UN sekarang, Jogja tidak kelihatan? Apa memang sudah terjadi pergeseran pemikiran atau karena memang Jogja tidak nyaman lagi untuk merengkuh pendidikan?

Komentar Aku Ingin Jogja Nyaman

Jangan menaruh live link dikomentar dan sampai saat ini baru 6 komentar untuk update Aku Ingin Jogja Nyaman dengan id 2424312093107508912.

TONGKONANKU

Benar banget! Jgja sekarang sudah makin padat (macet) dan udaranya sudah semakin panas.

10/6/13 14:16
Bowo Ekowidodo Sragen

Itu juga yang saya rasakan ketika berkunjung ke Jogja untuk sekarang .. Biasanya motoran kalau dulu nyantai, enak apalagi klo malam dingin . Dan Ada rasa nyaman juga terutama keselamatan pribadi. Untuk sekarang mungkin agak khawatir dengan beberapa kejadian belakangan yang terjadi di Jogja

10/6/13 14:56
Pondokgue

Mungkin karena banyak pendatang ya kang..
seperti saya ini.. :D

10/6/13 15:22
Bowo Ekowidodo Sragen

wkwkwk syukur klo ngerasa :p

10/6/13 16:28
sutopo

wah keren mas artikelnya..
selain menjadi kota pelajar, kota wisata , ternyata di postingan mas blogger sragen , ingin menjadi kan jogja kota nyaman , bagus juga mas artikelnya..

semoga bisa menang, amin..
salam kenal mas...

11/6/13 07:21
yoedha

Jogja memang panas.. apa lagi sekarang pasti tambah panas (akeh bus pariwisata).. namun juga sekarang malah diguyur hujan dalam 4 hari secara berturut-turut..
lalu dalam hati ku bertanya, bagaimana ya kinerja pawang hujan di Jogja? :p

11/6/13 14:05